-->

Kamis, 26 Januari 2012


Ibu, Hari Ini Aku Berubah!
Oleh  : DANI WISNU WIDIYANTO / SMA 1 BANTUL
Bel sekolah berbunyi. Erwan bergegas berkemas dan berlari menemui ibunya. Ibunya sebagai guru kelas tiga SD N Nusa Indah, sekolah Erwan, belum selesai mengadakan rapat dengan kepala sekolah yang dijadwalkan akan selesai jam dua, atau satu jam setelah bel sekolah tersebut berbunyi. Erwan yang mempunyai kebiasaan makan, terlihat gelisah merasakan perutnya yang keroncongan. Sesaat Erwan menengok ke ruang rapat. Ibu Fitri, wali kelas erwan juga teman guru ibu Erwan berkata, “ Sebentar ya, Nak,”  terdengar dari ruang rapat. Semua bapak dan ibu guru di ruang itu tertawa melihat tingkah Erwan.
Erwan yang telah menduduki kelas enam SD ini seharusnya lebih dewasa dan telah memikirkan Ujian Akhir Sekolah Bersetandar Nasional (UASBN), bukan hanya memikirkan makan untuk kebutuha perutnya. Sembari menunggu ibunya, Erwan pun berajak ke kantin, berharap  ada makanan yang bisa menenangkan perutnya yang terus bernyanyi. Akan tetapi kantin yang biasa dia gunakan untuk makan sudah tutup. Di sana hanya terlihat kucing peliharaan ibu kantin berbaring di atas kursi di kantin itu. Erwan yang putus asa mencari makan siangnya, duduk bersama kucing dan terus menggumam.
Sesaat kemudian ibu Erwan Datang, Mustainah yang sudah keluar dari ruang rapat menghampiri Erwan dikantin dan membawakannya satu buah roti dan air mineral. Begitu lahabnya dia memakan roti itu. Perut keroncongan seorang ibu, sudah terbayar dengan senyum Erwan yang telah menghabiskan satu buah roti itu. Mustaimah mengajaknya pulang.
“Angkoooooooooot,” teriak Mustainahbersama putranya, Erwan yang sedang menunggu angkot di halte depan depan sekolah.
“Buk, Aku laper nih,” seru Erwan yang sedang naik angkot bersama ibuknya.  Suami ibu Mustainah, supriyono yang bekerja sebagai wiraswasta hari ini tidak bisa menjemput mereka. Keluh manja Si Erwan yang merasa laparpun diabaikan ibu Mustainah . Hanya satu jawaban ibu Mustainah, “Yang sabar, Nak!” jawab ibu itu dengan penuh kesabaran!
Malam telah tiba. Pak Supriyono pun pulang dari kantornya. Belum sempat duduk maupun minum the hangat, Erwan pun minta dibelikan nasi goreng. Ibu Mustainah membentak suaminya agar segera membelikan nasi goreng sesuai permintaan Erwan. Bentakan ibu Mustaina pun penuh dengan cacian, sakit untuk didengar. Semua itu ia lakukan untuk membahagiakan Erwan anak tunggalnya. Begitulah selalu kehidupan keluarga Erwan.
Suatu pagi Erwan pun menangis. Dia lupa mengerjakan PR matematika untuk hari ini. Beribu-ribu alasan keluar dari mulut anak manja itu, agar ia tidak berangkat sekolah.
“Ayo nak berangkat! Lupa tidak mengerjakan PR tidak apa-apa. Asalkan berangkat nanti ibuk bilangkan ke ibu Fitri, wali kamu!” ucap ibu itu penuh rayu agar anak tersebut berangkat sekolah.
Pak Supriyono pun ikut merayu Erwan. Rayu Pak Supriyono yang sedikit maksud mendidik, menjadi kemarahan ibu Mustainah yang sangat memanjakan anak itu. Pagi ini pun serasa ada kapal pecah dirumah tangga ini.
Pagi itu terulang kembali. Erwan menangis dan merintih kesakitan dengan alasan sakit perut. Kenyataannya, dia takut dengan pendalaman materi matematika. “Anakku saying, Kamu berangkat sekolah yah! Supaya  peringkat sekolah kita tidak turun karena tidak ada nilai kamu.” pinta ibu Mustainah. Demikian pula pak supriyono ikut membujuk. Terlihat waktu yang semakin siang, Erwan tidak berangkat sekolah. Aksi mogok sekolah seperti ini sudah sering dilakukan Erwan, namun orang tua Erwan belum pernah bersikap tegas mapun kasar kepadanya.
Erwan sejak kanak-kanak memang sudah dimanjakan orang tuanya.  Apapun yang di Minta Erwan selalu terpenuhi, tanpa mengenal waktu, tempat dan juga cuaca. Sejak kanak-kanak dia memang sering tidak berangkat sekolah. Kakak ipar ibu Mustainah adalah seorang yang ditakuti Erwan. Tanpa dengan menangis, bujukan kaka ipar bu Mustainah selalu diterima Erwan. Namun kakak ipar bu Mustainah tidak ingin melampaui kuasa sebagai orang tua Erwan.
Dan saat Erwan selalu bertingkah seperti itu, selau tercurah keluh kesah tercurah dari hati kedua orang tuanya.
“Tuhan, kenapa anakku sering, mogol sekolah? Kenapa rayuanku selalu tumbang dengan tangis anakku ?” bu mustainah menjatuhkan air mata, turut pula pak Supriyono yang berada di samping ibu Mustainah. “Kenapa hamba tidak bisa tegas sebagaiman orang tua pada mestinya?” Kesediha itu selau menghantui keluarga ini.
Ulangan Akhir semester pertama telah tiba. Erwan yang duduk di bangku kelas enam harus menjalani satu minggu dengan ulangan itu. “Nak, calon dokter harus belajar,” sebagai motivasi bu Mustainah,”Katanya mau seperti dokter Hendra?” sesaat Erwan tersenyum melihat kedua orang tua yang mendampingi Erwan belajar.” “Besok juga harus bisa masuk SMA satu kayak kakak sepupu kamu, si Iyan.”seru pak Supriyono. “Ayo pak dokter belajar” Erwan tersenyum, “Dokternya baru lapar, beliin ayam goreng, Pak!” ayah Erwan langsung berangkat memenuhi permintaan Erwan.
Hari yang paling ditakutkan pun datang. Ulangan Matematika dan Agama di depan mata. Ibu Mustainah yang sedang menyiapkan sarapan pagi, mendengar tangisan Erwan yang sedang bangun tidur.
“Buuuuuk…….,” teriak Erwan sambil menangis.
“Aku sakit.” Bu Mustainah menghampirinya
“Sakit apa, Nak?” melihat Erwan yang terus memegani perutnya.
“Sinih ibuk kasih minyak biar ga sakit perutee.” Sembari Erwan yang terus menangis, Pak Supriyono datang menghampiri.
“Buk, dianget-angetin perutee, nanti kan terus sembuh! Nanti juga harus berangkat, ada ulangan semesteran.” Kata pak Supriyono.
”Aku sakit, Pak. Gak bisa berangkat sekolah.” seru manja anak ini.
Saat itu pun juga bu Mustainah menelepon bu, Fitri. “Selamat pagi bu Mustainah?” seru bu Fitri mengawali pembicaraannya. Telepon pun disambungkan ke Erwan yang sedang menangis. “Calon dokter harus sekolah kalo cuma sakit perut,” rayu bu Fitri. “Harus ikut semesteran kalo sudah kelas enam.”
“Dengarkan bu Fitri, Nak!” kata bu Mustainah. Namun Erwan bertambah menangis dan menangis.Seperti tiada lagi yang ditakutinya.
Saat-saat yang mendebarkan pun tiba. Rapat pertimbangan nilai pun digelar. “Bu Fitri? Nilai Erwan kenapa tidak tuntas ini? Nilai merah, gimana dengan ujiannya nanti?” ujar ibu sumarsih selaku kepala sekolah SD N Nusa Indah.”Maaf bu, saya tidak sampe hati.” terdiam. “Semua bapak ibu guru tercekam seketika memperhatikan keduanya berbicara. Sementara itu mata Mustainah di sudut pojok meja rapat berkaca-kaca memikirkan nilai matematika anaknya, yang Erwan ikuti separuh waktu itu.
Erwan yang sedang mengikuti classmeeting dipanggil ke ruang kepala sekolah.”Maaf bu kepala, untuk apa saya dipanggil ke sini?” sumarsi tercengan, tak bisa angkat bicara. “Ada nilai kamu dibawah KKM,” sahut Fitri. “Kamu kerjakan ulanga matematika, karena kamu belum tuntas. “ kepala sekolah itu berbicara juga.
Liburan kali ini bukanlah waktu Erwan untuk membesarkan perutnya. Erwan terketuk, akan suatu perjuangan mendapatkan nilai. Bagi Erwan panggilan kepala sekolah itu adalah celuti untuknya terus belajar dan belajar. Tak sempatpu Erwan melirik televise saat belajar, dan dia tetap focus. Dia punmengikuti les diberbagai guru privatnya. Dia juga selalu mengerjakan latihan soal-soal dengan buku-buku yang disarankan gurunya.
“Adhek baru apa?” terlihat Iyan, kakak sepupu Erwan yang tersenyum, datang dan menghampiri dari rumah sebelah. “Menentukan perbandingan dan sekala pada peta, kak.” “Wah, sekarang Erwan sudah rajin sekali ya!” kata Iyan yang duduk disebelah Erwan yang sedang belajar.
Memang usaha Erwan tak begitu saja. Dia selalu ikut berdoa waktu dini hari. Selalu hidup prihatin dalam setiap langkahnya. Anjuran agama selalu ia kedepankan.
Latihan ujian dan latihan ujian ia jalani. Ia selalu dipandu sepupunya Iyan dan Andro. Bersama keluarga yang lain, mereka mengamati belajar Erwan. “Kak Andro? Planet dalam tata surya ada berapa?” tanya Erwan penuh semangat.”Coba dicari dibuku!” jawabnya lugas. “Sembilan ya, Kak?” masih terus membaca buku di depannya. “Emmmmmmm, sekarang bukan Sembilan lagi, dek. Karena planet Pluto sudah tidak dianggap planet lagi.” (memotong pembicaraan) jawab kakak Iyan yang perhatian ini. “Kuk tidak dianggap sebagai planet lagi kenapa?” tannya Erwan penuh penasaran. “Karena orbit Pluto menerobos planet Neptunus,” jawab Andro kembali memotong pembicaraan.
Waktu memang tidak bisa diajak kompromi lagi. Ujian Akhir tinggal dua minggu lagi. Dan tidak ada pilihan lagi kecuali menghadapinya dengan penuh semangat dan serius.
Seketika malam, Erwan terbangun mendengar ibu dan ayahnya berdoa untuk keberhasilan ujiannya. Selagi dinginya malam, hati Erwan tersentuh.Dia mengambil air dan ikut berdoa dengan orang tuanya. Kemantapan dan keyakinan meraih kesuksesan dalam ujian akhir telah iya dapatkan.
Dalam menjalani ujian,Erwan sangat bersemangat. Dia yakin persiapan-persiapan yang ia lakukan sudah cukup. Dia meminta doa kepada orang tua, keluarga, bapak dan ibu guru, teman dahabat dan yang lainnya agar lebih percaya diri dalam menyelesaikan ujian akhir.
Akhir penantiannya selam enam tahun di pendidikan Sekolah Dasar Nusa Indah telah selesai. Pengalaman buruknya kini menyadarkannya, memberinya gambaran hidup, dan membalikan opini-oponi orang di sekitarnya. Dia menjadi siswa luslusan terbaik di kota dan diterima di SMP yang dia inginkan.