Koreksi Fiskal, Koreksi Fiskal Positif, Koreksi Fiskal Negatif, dan Perbedaan Koreksi Fiskal

Diposkan oleh Dani Wisnu on Selasa, 27 Januari 2015

Koreksi Fiskal
Untuk keperluan perpajakan wajib pajak tidak perlu membuat pembukuan ganda, melainkan cukup membuat satu pembukuan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), dan pada waktu mengisi SPT Tahunan PPh terlebih dahulu harus dilakukan koreksi-koreksi fiskal. Koreksi fiskal meliputi pengakuan pendapatan dan biaya yang dapat berupa koreksi positif dan koreksi negatif.
Koreksi Fiskal Positif
Koreksi Fiskal Positif adalah koreksi/penyesuaian yang akan mengakibatkan meningkatnya laba kena pajak yang pada akhirnya akan membuat PPh Badan Terhutangnya juga akan meningkat.
Koreksi fiskal positif diantaranya:
a. Biaya yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan usaha perusahaan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara pendapatan
b. Biaya yang tidak diperkenankan sebagai pengurang PKP
c. Biaya yang diakui lebih kecil, seperti penyusutan, amortisasi, dan biaya yang ditangguhkan menurut WP lebih tinggi
d. Biaya yang didapat dari penghasilan yang bukan merupakan objek pajak
e. Biaya yang didapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final
Koreksi Fiskal Negatif
adalah koreksi/penyesuaian yang akan mengakibatkan menurunnya laba kena pajak yang membuat PPh badan terhutangnya juga akan menurrun.
Koreksi fiskal negatif diantaranya :
a. Biaya yang diakui lebih besar, seperti penyusutan menurut WP lebih rendah, selisih amortisasi, dan biaya yang ditangguhkan pengakuannya
b. Penghasilan yang didapat dari penghasilan yang bukan merupakan objek pajak
c. Penghasilan yang didapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final

Perbedaan Koreksi Fiskal
Terdapat perbedaan dalam perlakuan penetapan pendapatan dan biaya menurut Undang-Undang Perpajakan Nomor 17 Tahun 2000 dengan Standar Akuntansi Keuangan sebagai akibat dari adanya beda tetap dan beda sementara; perlakuan akuntansi terhadap perbedaan tersebut perlu dilakukan rekonsiliasi antara laporan keuangan komersil dengan laporan keuangan fiskal; dan pengaruh perbedaan tersebut terhadap laporan keuangan yaitu pada besarnya jumlah pajak terutang dan jumlah laba usaha.
More aboutKoreksi Fiskal, Koreksi Fiskal Positif, Koreksi Fiskal Negatif, dan Perbedaan Koreksi Fiskal

Penghasilan yang Termasuk Objek Pajak dan Penghasilan yang Bukan Termasuk Objek Pajak

Diposkan oleh Dani Wisnu

Penghasilan yang Termasuk Objek Pajak
a. Penggantian atau imbalan berkenaaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh
b. Hadiah dari undian, pekerjaan, kegiatan, dan penghargaan laba usaha
c. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta
d. Penerimaan kembali pembyaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya
e. Bunga termasuk premium, diskonto, imbalan karena jaminan pengembalian hutang
f. Royalty, Deviden dengan nama dalam bentuk apapun
g. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta
h. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala
i. Keuntungan karena pembebasan hutang
j. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing
k. Premi asuransi
l. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva
m. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usahanya atau pekerjaan
n. Tambahan kegiatan netto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak

Penghasilan yang Bukan Objek Pajak
a. Harta termasuk setoran tunai yang diterima Badan sebagai pengganti saham atau penyertaan modal.
b. Bantuan, sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah.
c. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dan oleh badan atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
d. Warisan
e. Dividen atau bagian laba yang diterima akibat penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
1. Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan;
2. Pemilikan saham paling rendah 25% dari jumlah modal disetor dari Perusahaan yang memberi Dividen.
f. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kecelakaan, kesehatan, jiwa, dwiguna, dan beasiswa.
g. Iuran yang diterima dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan.
h. Bagian laba yang diterima anggota perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi.
i. Penghasilan yang sudah dikenakan PPh final.
j. Bunga obligasi yang diterima perusahaan reksadana selama 5 tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian ijin usaha
k. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali jumlahnya tidak lebih dari 350 juta rupiah yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah, termasuk:
1. KUKESRA (Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera)
2. KUT (Kredit Usaha Tani)
3. KPRSS (Kredit Pemilikan Rumah Sangat Sederhana)
4. KUK (Kredit Usaha Kecil)
5. Kredit lainnya dalam rangka kebijakan perkreditan BI dalam rangka mengembangkan usaha kecil dan koperasi (yang merupakan jumlah kumulatif dari satu atau beberapa bank kreditur)
More aboutPenghasilan yang Termasuk Objek Pajak dan Penghasilan yang Bukan Termasuk Objek Pajak

Pajak, Pengertian Pajak, Manfaat Pajak, Tujuan Pajak, dan Fungsi Pajak dalam Bidang Akuntansi

Diposkan oleh Dani Wisnu

A.     Pajak
                                    Pajak merupakan salah satu wujud kemandirian suatu bangsa atau negara dalam pembiayaan pembangunan yaitu menggali potensi dalam negeri dan alat bagi pemerintah dalam mencapai tujuan untuk mendapatkan penerimaan, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung dari masyarakat, guna membiayai pengeluaran rutin serta pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat. Pajak secara bebas dapat dikatakan sebagai suatu kewajiban warga negara berupa pengabdian serta peran aktif warga negara dan anggota masyarakat untuk membiayai berbagai keperluan negara berupa Pembangunan Nasional yang pelaksanaannya diatur dalam Undang-Undang dan Peraturan-Peraturan untuk tujuan kesejahteraan bangsa dan negara.
B.      Pengertian Pajak
                        Pengertian pajak secara awam merupakan iuran dalam bentuk uang (bukan barang) yang dipungut oleh pemerintah (negara) dengan suatu peraturan tertentu (tarif tertentu) dan selanjutnya digunakan untuk pembiayaan kepentingan-kepentingan umum.
Menurut Undang – Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No.28/2007, Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
                        Sedangkan Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H. (1990:5), Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
C.     Fungsi Pajak
                        Ada dua fungsi pajak, yaitu :
1)  Fungsi Budgetair (Pendanaan)
                                    Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya, yaitu pajak dimanfaatkan sebagai instrument pengumpul dana guna membiay ai pengeluaran – pengeluaran pemerintah. Ditujukkan dengan masuknya pajak ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
2)      Fungsi Regulair (Mengatur)


                        Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial ekonomi, yaitu pajak dimanfaatkan sebagai instrumen pengatur melalui kebijakan – kebijakan yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, misalnya untuk mempercepat laju perumbuhan ekonomi, redistribusi pendapatan, dan stabilisasi ekonomi.

Reference: Buku Ekonomi SMA
More aboutPajak, Pengertian Pajak, Manfaat Pajak, Tujuan Pajak, dan Fungsi Pajak dalam Bidang Akuntansi

Penjelasan mengenai Konsep Informasi dan Rerangka Konseptual dalam Akuntansi

Diposkan oleh Dani Wisnu

Nilai Informasi à kemampuan informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan keyakinan pemakai dalam pengambilan keputusan.
Dalam Akuntansi, pedoman yang dimaksud adalah prinsip akuntansi berterima umum (PABU) terutama standar akuntansi

Rerangka Konseptual
(conceptual framework)
FASB: Financial Accounting Standards Board
Rerangka Konseptual = konstitusi
Pelaporan keuangan dianalogikan dengan kegiatan kenegaraan, rerangka konseptual dapat dianalogi dengan konstitusi sedangkan prosesnya dapat dianalogikan dengan proses pemikiran dalam pembuatan konstitusi negara.
Kam (1990), Menguraikan manfaat-manfaat rerangka konseptual sebagai berikut:
  1. Memberi pengarahan atau pedoman kepada badan yang bertanggung jawab dalam penyusunan/penetap standar akuntansi
  2. Menjadi acuan dalam memecahkan masalah-masalah akuntansi
  3. Menentukan batas-batas pertimbangan
  4. Meningkatkan pemahaman pemakai dan keyakinan terhadap statmen keuangan
  5. Meningkatkan keterbandingan statemen keuangan antar perusahaan

Rerangka konseptual versi IASC:
ü  The Objective of Financial Statements
ü  Underlying Assumptions
ü  Qualitative Characteristics of Financial Statements
ü  The Element of Financial Statements
ü  Recognition of The Elements of Financial Statements
ü  Measurements of The Elements of Financial Statements
ü  Concepts of Capital Maintenance and The Determination of Profit



More aboutPenjelasan mengenai Konsep Informasi dan Rerangka Konseptual dalam Akuntansi

Motto dari Orang-Orang Ternama di Dunia

Diposkan oleh Dani Wisnu

Ketika anda sedang kehabisan motifasi, maka simak dan rasakan lah makna dari kata kata berikut ini

1.      “ Allah mencintai orang yang cermat dalam meneliti soal-soal yang meragukan dan yang tidak membiarkan akalnya dikuasai oleh nafsunya ” ( Nabi Muhammad SAW )
2.      Sabar dalam mengatasi kesulitan dan bertindak bijaksana dalam mengatasinya adalah sesuatu yang utama.
3.      Hidup tidak menghadiahkan barang sesuatupun kepada manusia tanpa bekerja keras.
4.       Pendidikan merupakan perlengkapan paling baik untuk hari tua. (Aristoteles)
5.      Hanya kebodohan meremehkan pendidikan. ( P.Syrus )
6.      Ketergesaan dalam setiap usaha membawa kegagalan. (Herodotus )
7.      Dia yang tahu, tidak bicara. Dia yang bicara, tidak Tau. ( Loo Tse )
8.      Ceroboh dan tidak bisa menahan emosi adalah sikap yang bisa berakibat fatal.
9.      Kegagalan hanya terjadi bila kita menyerah ( Lessing )
10.  Manusia tak selamanya benar dan tak selamanya salah, kecuali ia yang selalu mengoreksi diri dan membenarkan kebenaran orang lain atas kekeliruan diri sendiri.
11.  Pengetahuan adalah kekuatan.
12.  Tempatkan cita-citamu yang tinggi, Sebaliknya penantian yang rendah dan tetaplah positif dari hasil yang tidak terduga.
13.  Mengerjakan sesuatu yang setengah-setengah tidak akan kami lakukan, mengerjakannya sampai tuntas atau tidak dilakukan sama sekali.
14.  Karena orang-orang pintar selalu menyerah, memerintahlah orang-orang bodoh di dunia ini.

15.  Siapa yang percaya sesuatu menjadi, dialah memilikinya akan menjadi sesuatu itu!
More aboutMotto dari Orang-Orang Ternama di Dunia