Cerita Rakyat Mitos Dewi Nawang Wulan

Diposkan oleh Dani Wisnu on Rabu, 29 Februari 2012


Hallo teman-teman, masih bersama lagi dan saling berbagi ilmu. Kali kita akan menyampaikan sebuah cerita menarik tentang tujuh bidadari nich.. Bidadarinya cantik-cantik lhooooo. simak nich teman-teman!



Judul: Dewi Nawang Wulan
Sumber: Buku Bahasa Indonesia Bahasa Negeriku 1
Sinopsis

Alkisah di suatu desa, hiduplah seorang perempuan yang biasa dipanggil Nyi Randa Tarub, dia mempenyai anak angkat bernama jaka tarub yang telah tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan sangat senang berburu. Suatu hari ketika dia berburu seperti biasanya, dia mendengar suara wanita yang kurang jelas karena ditelan dedauanan, karena penasaran jaka tarub akhirnya menuju ke sumber suara secara mengendap-endap. Jaka tarub melihat 4 orang gadis cantik yang sedang mandi di telaga, hampir bersamaan dengan itu, dia juga melihat beberapa lembar selendang yang tergeletak dipinggir telaga, ada bisikan dari dalam diri Jaka Tarub untuk mengambilnya, dan secara mengendap-endap dia mengambil salah satunya. Ketika para gadis yang ternyata bidadari itu hendak kembali ke kahyangan, salah satu dari mereka panik karena tidak menemukan selendangnya, tapi ketiga bidadari lain tidak dapat berbuat apa-apa.
Melihat hal tersebut jaka tarub mendekati sang bidadari yang tertinggal bernama Nawang Wulan itu, Nawang Mulan terpaksa harus menceritakan semuanya, Dewi Nawang Mulan tidak punya pilihan lain, akhirnya dia ikut ke rumah Jaka Tarub
. Hari berganti hari, mereka menikah dan mempunyai anak. Bagaimanapun Dewi Nawang Mulan adalah seorang bidadari sehingga dia mempunyai kelebihan, salah satunya adalah dapat membuat sebakul nasi hanya dari satu biji padi, asalkan tidak ada yang mengetahui hal itu, itulah sebabnya Dewi Nawang Mulan melarang suaminya untuk membuka tanakan nasinya, namun Jaka Tarub tidak sanggup menahan rasa penasarannya, dia membuka tanakan nasi itu dan sangat terkejut karena hanya ada satu biji padi di dalamnya. Jaka Tarub menanyakan perihal itu ke isterinya, seketika itu pula Dewi Nawang Mulan kehilangan kesaktian.
Karena telah sepenuhnya menjadi manusia biasa, Dewi Nawang Mulan pun harus bersusah payah untuk membuat kebutuhan sehari-hari, harus bersusah-susah menumbuk padi, dan mengambil padi dilumbung. Semakin lama, padi dilumbung semakin berkurang. Sampai suatu hari, ketika Dewi Nawang Mulan ingin mengambil padi, dia menemukan selendangnya terselip diantara butir-butir padi. Dewi Nawang Mulan merasa sedih sekaligus gembira, dia senang karena mengatahui dia akan segera berkumpul bersama teman-temannya, dia sedih karena harus berpisah dengan keluarganya, tapi tak ada pilihan lain, dia harus meninggalkan Jaka Tarub yang sedari tadi ternyata melihat ia telah berubah menjadi bidadari lagi.
Dewi Nawang Mulan hanya berpesan agar suaminya membuat sebuah dangau di dekat pondoknya sesaat sebelum kembali ke kahyangan.
Hal-Hal Yang Menarik :
· Adalah dewi nawang mulan dan teman-temannya yang teryata seorang bidadari dari kahyangan yang sangat bergatung pada sehelai selendang untuk bepergian.
· Kesaktian dewi nawang mulan yang salah satunya dapat membuat sebakul nasi, hanya dengan sebutir padi.
· Kelapangan hati dewi nawang mulan memaafkan kesalahan suaminya.
Unsur Intrinsik
Tema : Kisah hidup seorang bidadari yang terpaksa tetap tinggal di dunia manusia sampai akhirnya bisa kembali ke kahyangan
Alur : Alur maju dikarenakan cerita tersebut di mulai dari jaka tarub menucuri selendang dewi nawang mulan, lalu mereka menikah, kemudian menjalani rumah tangga, sampai akhirnya dewi nwang mualn kembali ke kahyangan.
Latar :
· Dihutan ketika jaka tarub berburu kemudian menemukan para bidadari yang sedang mandi di telaga, suasana pada saat itu adalah menenggankan bagi jaka tarub, kepanikan dan kesedihan yang mendalam bagi nawang mulan. hal ini terjadi pada siang menjelang petang.
· Di lumbung padi ketika dewi nawang mulan menemukan seledangnya kembali, suasana hati nawang pada saat itu adalah gembira sekaligus sedih, sedangkan untuk jaka tarub menenggangkan karena takut tidak mendapat maaf dari dewi nawang mulan, juga sedih.
Penokohan :
· Jaka Tarub:
- Egois
- Berfikiran pendek
- Berhati besar
- Gegabah
· Dewi Nawang Mulan:
- Pemaaf
- Berhati besar
- Penyayang
Sudut pandang: Sudut pandang orang ketiga, karena di cerita tersebut selalu menggunakan kata dia, dirinya,mereka.
Gaya Bahasa : Baku
Amanah :
· Walaupun telah disemprotkan parfum berkali-kali tetap saja bau bangkai akan tercium juga, kita takkan dapat menikmati hidup dengan bahagia yang di bangun di atas pondasi dusta.
· Seberapa besar pun kesalahan seseorang pada kita, cara terbaik untuk melupakannya adalah memaafkan, maka maafkanlah !
· Penyesalan adalah sosok pehlawan yang entah dari mana sebelumnya, akan datang ketika semuanya sudah ‘terlanjur’, maka sebelum penyesalan yang datang menghampiri, gunakanlah jasa pahlawan yang senantiasa ‘ada’ yaitu rasa syukur, tergantung dari kita masing-masing ingin memakai jasanyaa atau tidak.
Unsur Extrinsik
Nilai Moral : Adalah kelapangan hati dewi nawang mulan untuk memafkan suaminya, juga jaka tarub yang dengan ikhlas merelakan isterinya.
Nilai Budaya : Masih digunankannya cara tradisinoal dalam mengolah bulir-bulir padi menjadi nasi.
Niliai Agama :
Perbandingan nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita tersebut dengan nilai-nilai di masa sekarang
Nilai Moral :
· Di Dalam Cerita : dewi nawang mulan memaafkan suaminya yang telah berbuat salah kepada dirinya
· Sekarang : dimasa sekarang ini seorang wanita sepeti nawang mulan sudah sangat langka, masih memaafkan seseorang yang telah merubah hidupnya.
Nilai Budaya :
· Di Dalam Cerita : dewi nawang mulan masih digunankannya cara tradisinoal dalam mengolah bulir-bulir padi menjadi nasi.
· Sekarang : masyrakat pada umumnya sudah meninggalkan cara tradisional dan beralih ke cara modern
Niliai Agama
· Di Dalam Cerita :
· Sekarang :


{ 4 komentar... read them below or add one }

Stella Elf Siwonest mengatakan...

gomawo for your information

Dani Wisnu mengatakan...

iya bung, saling menolong aja dan berbagi ilmu.

Anonim mengatakan...

dikutip dari sumber mana ya?

Dani Wisnu mengatakan...

buku bahasa indonesia gan,

Poskan Komentar