-->

Kamis, 12 Januari 2012


1.      Pepatah Jawa
Hampir semua orang yang hidup di muka bumi ini pernah mendengarkan pepatah. Bahkan mereka sekurang-kurangnya memiliki satu acuan dalam hidup. Pepatah merupakan rangkaian kata-kata bijak yang biasanya disampaikan oleh tokoh-tokoh tertentu atau orang-orang yang berpengaruh. Selain yang disampaikan oleh tokoh tertentu, pepatah bisa saja sebagai anonim. Dalam arti, pengarangnya tidak diketahui karena sudah turun temurun berkembang dalam masyarakat. Namun, pengarang pepatah itu menjadi tidak begitu penting karena ada yang lebih penting yaitu makna dari pepatah tersebut. (http://peperonity.com/go/sites/mview/solocity/13190024)
Pepatah ditulis dalam bahasa yang bermacam-macam, salah satunya adalah pepatah dalam bahasa Jawa. Pepatah dalam bahasa jawa tersebut biasa disebut dengan paribasan.  Pepatah Jawa tersebut mengandung nilai-nilai luhur dan suci tentang keagamaan, adat istiadat, pendidikan moral, tingkah laku dan sebagainya.  Isi dan maksud ungkapan Jawa penuh santun dan berisi semangat perdamaian secara sejuk serta berbudi luhur. Sebagai mahluk Tuhan yang berkebudayaan, apa yang baik karena merasa terpanggil lahirlah ungkapan "memayu hayuning bawana" (melindungi bagi kehidupan dunia). Pepatah jawa tersebut antara lain sebagai berikut:
-          "Nulada laku utama"  (mencontoh perbuatan yang baik). Ini berarti semua anggota keluarga harus mencontoh pada perbuatan yang utama dan yang baik. 
-          "Mikul dhuwur mendhem jero"  (memikul tinggi menanam dalam). Artinya orang yang senantiasa bertanggungjawab kepada keluarga dengan membawa nama baik keluarga atau orang tua. Dengan menjunjung derajat orang tua si anak akan harum namanya. 
-          "Kaya mimi lan mintuna"  (seperti sepasang ikan mimi dan mintuna). Artinya kasih sayang ayah dan ibu, tidak bercerai-berai atau tidak dapat diceraikan dan selalu rukun. Kasih sayang ibu dan ayah, dapat digeser ke kasih sayang adik-kakak, orang tua-anak dan sebaliknya anak harus hormat kepada orang tua dan berbakti agar dalam keluarga tidak terjadi pertengkaran. (http://www.anneahira.com/pepatah-17962.htm).
Selain itu ada juga  pepatah Jawa yang bermakna negatif sebaiknya kita bisa menghindari sikap ini. Pepatah Jawa yang bermakna negatif itu antara lain sebagai berikut:
-          Cecak nguntal cagak”.
Untuk menyatakan suatu keinginan yang tidak seimbang dengan kekuatan orang jawa bilang
-          Cincing-cincing mekso klebus”
Untuk menyatakan maunya irit tapi boros pepatahnya: 
-          “Mburu uceng kelangan dheleg”
Untuk menyatakan ketika mencari yang kecil justu kehilangan yang lebih beharga istilahnya 
-          ” Diwenehi ati ngrogoh rempela”
Untuk menyatakan orang yang tidak bersyukur ketika diberi pepatahnya 
-          “Emban cindhe emban siladan”
Untuk menyatakan orang yang pilih kasih dalam memberi atau membela istilahnya
-          “Esok dhele sore tempe”
Untuk menyatakan orang yang mudah terbawa angin dan tidak punya pendirian
-          ” Koyo banyu karo lengo”
Untuk menyatakan orang yang tidak bisa rukun dan akur
-          “Kakehan gludug ora udan”
Untuk menyatakan orang yang banyak bicara tetapi hasilnya tak tampak
-          ” Kegedhen empyak kurang cagak”
Untuk menyatakan punya cita cita yang besar tetapi tidak punya kemampuan yang cukup.
-          ” Milih milih tebu oleh boleng”
 Untuk menyatakan terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya justru mendapat yang tidak baik. (http://filsafat.kompasiana.com/2011/07/08/pepatah-jawa-yang-penuh-makna/)
Pepatah Jawa tersebut merupakan sedikit dari banyak pepatah Jawa yang lain. Setiap pepatah Jawa memiliki petuah tersendiri yang masuk akal dan aplikatif dalam kehidupan, memiliki nilai-nilai kearifan local, dan keunikan bahasanya yang khas. Nilai-nilai kearifan lokal dalam suku Jawa yang ditanamkan nenek moyang sejak lama dapat menjadi benteng dari keinginan memperkaya diri dengan cara korupsi. Sayangnya, nilai-nilai moral itu telah luntur dimakan zaman, atau dianggap tidak relevan lagi karena deraan ekonomi yang semakin membebani rakyat sehingga melakukan hal yang tidak seharusnya dianggap wajar dan bahkan jadi panutan. Gubernur  Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, sejak lama falsafah merasa malu jika moralitasnya tercela telah tumbuh subur di kalangan masyarakat Jawa. (http://nasional.kompas.com/read/2008/05/22/13345015/)
Pepatah Jawa yang semakin luntur di kalangan sukunya sendiri perlu dilestarikan agar kelak sampai nenek moyang berikutnya pepatah Jawa masih diketahui. Oleh karena itu perlu adanya pelestarian terhadap pepatah Jawa tersebut.
2.      Limbah Kulit Kacang
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998), pengertian limbah secara harfiah didefinisikan sebagai sisa proses produksi dan air buang pabrik. Sedangkan definisi limbah kulit kacang secara khusus merupakan  limbah yang pengelolaannya tidak membutuhkan banyak dana. Namun demikian, belum ada pengelolaan yang khusus terhadap bahan ini hanya sebagai sampah yang kurang dimanfaatkan dalam lingkungan.
Untuk menghindari hal-hal semacam itu, maka limbah kulit kacang harus dikelola secara baik agar menghasilkan suatu produk yang bermanfaat dan bernilai guna tinggi yaitu dengan mengubahnya menjadi suatu kerajinan tepat guna. Pembuatan kerajinan dari limbah kulit kacang dimaksudkan untuk mengubah sesuatu yang tidak ataupun kurang bermanfaat menjadi sesuatu yang lain yang lebih bermanfaat. Dengan adanya pembuatan kerajinan dari limbah kulit kacang akan meminimalisir pembuangan limbah kulit kacang sehingga limbah kulit kacang tersebut tidak akan terbuang sia-sia. 
3.      Teknik merangkai dan teknik menghias
Teknik adalah suatu kecerdasan membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri (bangunan, mesin, dan lain sebagainya). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknik juga diartikan sebagai cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan seni. Dalam pembuatan kerajinan limbah kulit kacang ini, digunakan dua teknik yaitu teknik merangkai dan teknik menghias.
a.       Teknik merangkai
Teknik merangkai adalah suatu kemampuan merangkai sesuatu menjadi hal-hal yang menarik, penyusunan sesuatu menjadi hal yang indah dan bernilai seni tinggi.
b.      Teknik menghias
Teknik menghias diartikan sebagai kemampuan menghias agar tampilan yang sudah dirangkai menjadi semenarik mungkin dan menimbulkan daya tarik yang tinggi.

Ahira, Anne.2009.Belajar Hidup dari Pepatah. http://www.anneahira.com/pepatah-17962.htm diakses pada tanggal 8 Juli 2011 pukul 23:59
Anonim.2011.Paribasan / Saloka. http://peperonity.com/go/sites/mview/solocity/13190024 diakses pada tanggal 8 Juli 2011 pukul 00.18
Kompas.com.2008.Sultan HB X Menyemai Bibit Malu Korupsi http://nasional.kompas.com/read/2008/05/22/13345015/ diakses pada tanggal 9 Juli 2011 pukul 04.37

Sugiastuti, Sri.2011. Pepatah Jawa yang Penuh Makna